Quality time bersama keluarga itu penting. Karena kata pepatah kuno, waktu itu tidak bisa diulang kembali. Jadi, jika kita manut dengan apa yang menjadi pernyataan pepatah diatas, artinya setiap waktu yang kita habiskan di dunia dari bangun tidur hingga tidur lagi haruslah memiliki makna. Agar tujuan kita hidup tidaklah sia-sia. Kira-kira seperti itulah maksudnya. Berhubung keluarga saya termasuk keluarga yang superr sibuk. Jadinya, sekecil apapun waktu luang yang dimiliki oleh kedua orangtua saya, semaksimal mungkin akan saya manfaatkan betul. Karena jujur, saya adalah tipikal anak yang sama sekali tidak peduli dengan kehidupan keluarga. Awalnya memang seperti itu. Tapi, saya jadi punya pandangan berbeda setelah saya melihat quote yang di post oleh temannya teman saya melalui media sosial instagram. Dari situ, entah mengapa saya jadi membayangkan wajah kedua orang tua saya yang tampak semakin menua. Jadi bunyi quotenya seperti ini : “Love your parent. We’re so b...
Kalian ngerasa gak sih kalo trotoar kita sampai saat ini sepenuhnya belum mampu mengakomodasi kebutuhan para pejalan kaki. Padahal kalo fasilitas yang satu ini bisa sedikit dibenahi, saya yakin minat orang untuk berjalan kaki akan semakin bertambah. Sejauh ini saya melihat, Pemerintah tidak menganggapi serius masalah ini. Setelah saya telusuri lebih jauh ternyata ada 10 instansi yang bertanggung jawab atas kenyamanan trotoar. Dari ke 10 instansi itu diantaranya : Dinas pekerjaan umum, Dinas pertamanan yang mengurus pepohonan, Dinas perhubungan yang menangani rambu-rambu lalu lintas, PLN, PAM, dan Telkom (Sumber:Republika.co.id). Jadi bisa disimpulkan, tidak nyamannya trotoar yang kita miliki saat ini dikarenakan buruknya koordinasi dari dinas-dinas terkait. Saya kasih lihat buktinya. Saya nggak tahu apakah trotoar didaerah kalian juga mengalami hal semacam ini. Tapi yang jelas masalah ini penting banget. Iya dong, pasti. Apalagi kalo kota kalian men...
Hidup sekarang makin sulit. Mau gak mau orang dituntut harus berpikir kreatif. Tujuannya jelas yaitu untuk mengakali segala problematika hidup yang sedang terjadi saat ini. Gambar dari Google Ibu saya yang seorang pedagang paling jelas terkena dampaknya. Sebenarnya, ibu saya tidak sendiri. Para pelaku usaha yang mempunyai bisnis serupa saat ini memang tidak mempunyai banyak pilihan selain harus mengakali keadaan. Hal ini dilakukan tidak lain agar warung mereka tetap bisa memberikan penghidupan bagi keluarganya walaupun di tengah maraknya gempuran harga-harga komoditi pangan yang kian melonjak. Bagi kami sekeluarga, warung ini sangatlah berarti. Hampir 90% pemasukan keuangan keluarga kami semuanya berasal dari warung ini. Maklum, pasca pesiun, ayah saya saat ini lebih banyak bekerja di rumah sebagai kontraktor frelancer. Nama perusahaan beliau yang tidak sementereng perusahaan kontraktor lainnya membuat perusahaan ayah saya sepi orderan untuk menggarap proyek. Ketik...
Comments
Post a Comment