Keluarga Tempat Kembali Pulang


Quality time bersama keluarga itu penting. Karena kata pepatah kuno, waktu itu tidak bisa diulang kembali. Jadi, jika kita manut dengan apa yang menjadi pernyataan pepatah diatas, artinya setiap waktu yang kita habiskan di dunia dari bangun tidur hingga tidur lagi haruslah memiliki makna. Agar tujuan kita hidup tidaklah sia-sia. Kira-kira seperti itulah maksudnya.

Berhubung keluarga saya termasuk keluarga yang superr sibuk. Jadinya, sekecil apapun waktu luang yang dimiliki oleh kedua orangtua saya, semaksimal mungkin akan saya manfaatkan betul. Karena jujur, saya adalah tipikal anak yang sama sekali tidak peduli dengan kehidupan keluarga. Awalnya memang seperti itu. Tapi, saya jadi punya pandangan berbeda setelah saya melihat quote yang di post oleh temannya teman saya melalui media sosial instagram. Dari situ, entah mengapa saya jadi membayangkan wajah kedua orang tua saya yang tampak semakin menua.

Jadi bunyi quotenya seperti ini :

 “Love your parent. We’re so busy growing up, we often forget they’re growing  old.”

Hal yang saya lakukan pertama kali setelah membaca quote ini adalah mikir.
Mikir gimana caranya supaya saya minimal bisa membuat mereka tersenyum dan bangga. Paling tidak disisa umur mereka saat ini. Oleh sebab itu, momen liburan semester kemarin adalah sekaligus menjadi ajang curhat internal keluarga.

Karena begini, dari semua anggota keluarga, ibulah yang paling berat mengemban tanggung jawab keluarga. Setelah ayah pensiun dan ibu melahirkan anak yang mana anak itu sekarang statusnya menjadi adik saya. Praktis beban ibu saya menjadi bertambah. Selain berperan sebagai ibu rumah tangga, ibu saat ini juga berperan sebagai tulang punggung keluarga.  Opsi ini diambil karena mempertimbangkan umur ayah saya yang sudah uzur dan tidak produktif lagi. Sehingga keputusan yang paling bijak adalah membiarkan ibu saya bekerja dan ayah saya yang menjaga adik di rumah.

Biasanya, sepulangnya ibu saya bekerja, ibu akan lebih memilih untuk langsung tidur. Ya, terkadang akvitas caper yang ditunjukkan oleh adik saya jadilah sia-sia. Tapi, ya mau bagaimana lagi tuntutan pekerjaan memang memaksa ibu saya harus begitu. Karena pukul 3 pagi ibu sudah harus bersiap-siap berangkat bekerja. Saya aja yang mengalami pernah bekerja di salah satu toko retail pakaian yang jam kerjanya hanya 6 jam saja terkadang masih sempet-sempetnya ngeluh. Lha ini, ibu saya berangkat jam 3 pagi pulang jam 9 malam. Betul-betul laki-laki lemah saya ini.

Tapi, hari itu agak sedikit berbeda. Sepulangnya bekerja, ibu tampak riang dan gembira. Belakangan saya baru sadar kalo penyebabnya ternyata adalah gaji ibu yang baru saja turun. Menurut ayah, pemandangan semacam ini sudah rutin terjadi. Karena menurut penuturan ayah saya, pihak kantor seringkali telat memberi gaji kepada ibu saya. Jadi, sekalinya pas sama jatuh temponya. Ibu saya senangnya bukan main.

“Oh pantesan,” Batin saya.

Tidak seperti biasanya, hari itu ibu saya tampak meladeni segala tingkah konyol yang ditunjukkan oleh adik saya. Adik saya pun meresponnya dengan menunjukkan tingkahnya yang tampak semakin konyol. Ibu saya lalu bereaksi dengan menyodorkan bibirnya ke arah pipi adik saya yang sengaja dimanyun-manyunkan semata-mata agar adik saya tertawa. Hasilnya, adik saya tertawa.

Ditengah-tengah suasana bersuka cita itu tiba-tiba ibu saya mulai membuka percakapan dengan saya diikuti oleh ayah saya yang juga larut dalam obrolan itu.

“Kamu kapan wisuda?” tanya ibu kepada saya.
“Masih lama,” Jawab saya.

“Jangan lama-lama ibu sudah tambah tua,” Jawab ibu tegas.

Mendengar pernyataan itu saya jadi sedikit mikir lagi. Oh ternyata waktu berjalan begitu cepat ya. Ndak terasa usia makin tambah tua tanggung jawab juga makin bertambah.

“Udah ndak usah dipikir,” ayah saya tiba-tiba membuyarkan lamunan saya. Lanjut dia, “yang penting fokusmu sekarang lulus dulu aja kerjaan gampang.”

“Oke,” Jawab saya enteng.

Kemudian saya coba mengalihkan topik pembicaraan ke masalah yang lebih enteng. Saya lalu sedikit bernostalgia dengan cerita dosa saya semasa kanak-kanak yang waktu itu belum sempat diketahui oleh kedua orangtua saya.

Saya bercerita kalo dulu saya pernah memfitnah teman sekelas saya. Saya fitnah dia dengan tuduhan mendorong saya ketika saya lari sehingga membuat kaki saya terluka. Parahnya ketika saya mengadu ke ibu, ibu saya waktu itu dengan polosnya percaya begitu saja dengan omongan saya ketika itu. Otomatis teman sekalas yang saya fitnah itu menjadi bulan-bulanan ibu saya. Untungnya teman saya ini tidak mengadu balik ke orangtuanya. Untungnya.

Mendengar pengakuan saya, ibu lalu berkata, “Oh .. mungkin gara-gara itu rezekinya ibu seret terus ya.”

Lalu saya jawab, “Tenang aja aku udah minta maaf kok. Tak jamin rezekinya ndak seret lagi.”

Dari momen yang singkat  ini saya jadi sadar kalo selama ini kita sebagai anak terlalu sibuk memikirkan diri sendiri sampai lupa memikirkan orangtua yang umurnya makin menua. So, mulai sekarang saya pengen kamu, anda sekalian bisa menjadi lebih baik dari diri kalian yang sebelumnya dan manfaatkan waktumu sebagai anak sebagaimana mestinya.








Comments

Popular posts from this blog

Trotoar Kita yang Nggak Banget

Hidup itu keras